Cerita Cinta Nyata Penderita Skoliosis

Beberapa hari yang lalu penulis mendapatkan cerita mengharukan dari seorang wanita penderita skoliosis yang tak mau disebutkan namanya saat admin meminta ijin untuk menerbitkan ceritanya. Semoga cerita ini memberikan hikmah tersendiri bagi pembaca. Berikut adalah kisah nyata nya.

Sebut saja nama saya bunga. Umur saya sekarang 20 tahun dan saya tinggal di Banjarmasin. Saya mengidap penyakit Skoliosis (scoliosis) dan penderitaan saya ini sudah ada sejak lahir dan saya cacat dari lahir. Saya seorang perempuan yang cacat tapi saya masih sama seperti perempuan lain yang memiliki perasaan dan rasa suka dengan lawan jenis.

Singkat cerita pada saat saya SMP kelas 1, ini adalah masa dimana saya memasuki fase pubertas pertama, artinya saya bukan lagi anak-anak. Penyakit saya semakin terlihat, yaitu benjolan di punggung yang semakin membesar. Benjolan di punggung semakin membesar karena saya mengalami masa pertumbuhan dan saat itu saya tidak begitu menyadarinya. Saya tetap percaya diri melakukan aktivitas seperti biasa.

Suatu hari ada seorang laki-laki teman sekolah mengejek saya dengan kalimat "wanita bungkuk". Saat itu adalah hari dimana saya mendapatkan ejekan dan pada saat itu perasaan saya sakit sekali. Kejadian itu membuat saya tidak masuk ke sekolah.

Saya tidak masuk ke sekolah bukan karena berdiam diri atau mengurung diri dirumah, tetapi saya melakukan sesi konsultasi ke dokter di rumah sakit daerah tempat tinggal saya. Pada saat itu Dokter mengatakan untuk resiko penyakit ini cukup tinggi, karena pada saat itu peralatan tak lengkap seperti sekarang ini.

Kalau saya ingin di operasi, antara resiko dan keberhasilan berkisar 50 berbanding 50. Seumpama operasi sukses tetapi sumsum tulang belakang saya bocor, saya bisa mengalami kelumpuhan total. Itu artinya saya tidak akan bisa melakukan aktivitas sama sekali. Selain itu, lamanya sesi untuk melakukan operasi bisa memakan waktu kurang lebih 6 jam.

Ibu saya tidak putus asa untuk mengobati penyakit ini. Saya dibawa berobat melalui jalur alternatif tanpa operasi oleh ibu kesana kemari. Suatu hari saya di pijat dan saya disarankan untuk melakukan operasi di Jakarta dengan 3 dokter sekaligus, yaitu dokter spesialis tulang, jantung dan saraf.

Terbayang biaya nya pasti tak sedikit dan pilihan tersebut akan membuat rumah dan tanah saya terjual. Selain tanah dan rumah bisa terjual, bukan jaminan operasi akan berhasil pikir saya saat itu.

Kakak saya memberikan saran dan mengatakan "sudah tidak apa-apa seperti itu yang penting bunga tidak minder". Jujur saya langsung lemas dan depresi, sampai saya tidak mau berangkat ke sekolah karena malu dengan keadaan saya yang seperti ini.

Penderita Skoliosis

Awal pertama kisah cinta penderita skoliosis

Singkat cerita, akhirnya saya lulus SMA dan pada saat itu saya memiliki ketertarikan pada laki-laki. Saya berkenalan dengan laki-laki melalui sosial media. Ucapannya sangat manis ketika kami belum bertemu. Tapi, setelah kami bertemu ternyata semuanya hanya omong kosong dan tidak sesuai dengan harapan saya.

Saya selalu jujur dengan penyakit yang saya derita pada setiap laki-laki yang saya kenal. Umumnya mereka ada yang langsung menjauhi saya dengan cara tidak lagi membalas chat, menghapus pertemanan dan ada juga yang mengatakan mau menerima saya apa adanya. Orang yang mengatakan mau menerima saya apa adanya waktu bertemu menghilang begitu saja.

Diantara mereka ada yang hanya berjabat tangan setelah itu hilang bak ditelan bumi dan ada juga yang paling menyakitkan. Saya pernah di hina dengan kalimat wanita cacat dan jelek. Padahal awalnya dia yang memaksa untuk berjumpa.

Awalnya kita bertemu, setelah 5 menit pertemuan dia beralasan kalau dia ada keperluan mendadak, ibunya minta di jemput dan dia harus cepat bergegas pulang ke rumah. Pikiran saya positif saja waktu itu, ternyata tak berapa lama ada SMS masuk.

Isi pesan singkat yang dia kirim begitu mengejutkan, dia bilang "sialan, kalau saya tahu kamu jelek, saya tidak akan mau menemui kamu". Padahal dari awal saya sudah mengatakan saya jelek, bukan salah saya dan kejadian itu begitu menyakitkan sampai saya meneteskan air mata.

Saya juga sering di hina dengan sebutan kura-kura ninja, dan lain sebagainya. Saya sudah puas merasakan hinaan dari orang lain. Belum lagi saat saya jalan ke mall, orang-orang melihat saya seperti melihat mahluk lain, mungkin mereka anggap saya seperti alien. Kalau saya bisa memilih, saya tidak ingin dilahirkan cacat seperti ini.

Kisah cinta manis berujung tangis

Suatu hari saya bertemu dengan pria yang mau menerima saya apa adanya dan dia juga tidak memandang saya hanya dari fisik. Hubungan berjalan selama 1 tahun, saya sering main ke rumahnya dan otomatis saya jadi sering bertemu dengan keluarga pacar saya, seperti ayah dan adik-adik nya. Selama 1 tahun, saya tidak pernah bertemu dengan ibu nya. Dia bilang ibunya sedang bekerja di suatu perusahaan.

Pacar saya bukan orang berada, dia hanya seorang anak buruh tani yang tidak lulus sekolah karena ekonomi keluarga. Dia sering juga saya ajak main kerumah agar bertemu dengan keluarga dan saudara-saudara saya yang lainnya.

Sampai lah suatu hari saya bertemu dengan ibu nya. Pada saat bertemu sih biasa saja, tapi waktu saya pulang ada hal lain yang ibunya sampai kan. Pacar cerita ke saya katanya hubungan ini harus putus. Kalau tidak mau putus, dia tidak akan dianggap sebagai anak nya lagi.

Saya ambil kesimpulan ibunya tidak siap menerima menantu yang cacat seperti saya. Menyakitkan sekali rasanya, disaat masih sayang sayangnya malah saya harus mengalah dan putus karena kekurangan yang saya miliki. Kejadian itu sudah lama saya alami dan sering juga mendapatkan harapan palsu.

Setelah kejadian itu, saya memutuskan untuk tidak pacaran atau dekat dengan laki-laki. Kalau pun kenal laki-laki, itu hanya sekedar berteman dan bagi saya tak masalah. Tapi untuk ke jenjang yang lebih serius, saya belum ter-pikirkan.

Terkadang saya berpikir, sampai kapan saya akan seperti ini. Saya juga ingin merasakan masa indah selayaknya wanita lain yang memiliki pasangan. Tapi apa daya, kebanyakan pria jaman sekarang melihat wanita hanya dari fisiknya saja.

Berbicara mengenai fisik, semua itu jauh dari diri saya. Dari itu saya berpikir lebih baik saya membuang jauh angan-angan tentang pasangan hidup dan tentang kesembuhan penyakit yang saya derita. Saat ini saya hanya tinggal berdua dengan adik saya, karena orang tua saya dua-duanya sudah meninggal dunia.

Ibu saya meninggal dunia pada saat saya kelas 2 SMA dan ayah saya meninggal baru satu tahun yang lalu. Jadi sekarang ini semua kebutuhan hidup saya yang menanggung sendiri.

Dari persoalan ini, saya tidak berpikir tentang pasangan hidup, karena hal yang saya pikirkan adalah mencari uang untuk saya dan adik saya. Saya hanya berpikir bagaimana caranya agar saya dan adik saya bisa makan esok hari.

Situasi dan kondisi ini membuat saya tak bisa berpikir lagi tentang pasangan hidup. Berpikir tentang kesembuhan penyakit saya ini saja terpaksa saya buang jauh-jauh walaupun sebenarnya saya ingin sekali sembuh. Semoga cerita ini bisa anda ambil pelajaran nya.

Suka dengan blog ini? Subscribe dan dapatkan artikel terbaru lainnya langsung ke email anda:

6 Responses to "Cerita Cinta Nyata Penderita Skoliosis"

  1. Mengharukan sekali kisahnya, semoga lekas ada solusinya. Allah maha adil dan setiap kejadian pasti ada hikmahnya, untuk mbak bunga Pilihan Allah lebih baik dari pada pilihan hambanya dan jangan putus asa. Hidup adalah perjuangab, Perjuangan anda sangat mulia. Semangat.. untuk hidup...!! By :tentangwebsites

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hidup adalah perjuangan ya mas? Karena memang tanpa merasa berjuang, sebenarnya juga sedang berjuang.

      Delete
  2. Cerita yang mengharukan mas, saya rasa wanita yang menderita kekurangan pada tubuhnya merupakan cobaan yang menurut saya sendiri akan mendapatkan yang lebih dari yang kuasa nantinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, dia kemungkinan baca komentar di blog ini. Ya begitu lah hidup, setiap orang punya kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Ada bagian-bagian tertentu (kekurangan) yang terkadang nggak di minta malah Tuhan kasih untuk sesuatu yang mungkin kita semua kurang mengerti.

      Delete
  3. Hai Mas Nino, Saya juga penderita skoliosis, dan saya ingin berpesan pada wanita ini untuk tidak menyerah, dengan melihat kurva skoliosisnya ini tentu harus segera dilakukan operasi, untuk masalah biaya mungkin memang mahal, tapi saat ini layanan BPJS sudah dapat digunakan untuk operasi dg Dokter Rahayu Salim di RSCM. Saya berharap mas Nino dapat menyampaikan pesan saya untuknya karena ini menyangkut kesehatan dan masa depannya. Jika beliau ingin bertanya lebih lanjut bisa menghubungi di email : laorennn@gmail.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Informasi yang sangat berguna. Nanti saya sampaikan langsung ke orang nya Mbak/Mas. Terima kasih atas kunjungan dan atensinya. :)

      Delete

Silakan tulis komentar sesuai dengan pembahasan. Mohon tidak membuat komentar spam, dan tidak menyertakan link aktif agar komentar anda disetujui untuk tampil.